Krisis Listrik di Kota Pekanbaru, Kapan Berakhir??


Krisis listrik di Pekanbaru

Krisis listrik di Pekanbaru

SAAT ini krisis listrik di Kota Pekanbaru, kota tempat saya tinggal, semakin hari semakin parah saja. Bermula dari pemadaman 2 jam sehari hingga saat ini mencapai setiap 3 jam sekali. Total dalam sehari dalam satu wilayah terjadi pemadaman mencapai 12 jam.

Pemadaman selama 12 jam merupakan pemadaman listrik yang sangat fantastis di daerah penghasil minyak seperti Riau ini. Kalau seandainya ada Guinness Book of Record, maka ini bakalan masuk dalam rekor tersendiri, dimana daerah kaya minyak mengalami pemadaman listrik hingga 12 jam sehari. Yang anehnya lagi adalah daerah di luar provinsi khabarnya tidak separah ini pemadamannya. Di Kota Padang sendiri menurut salah satu surat kabar hanya terjadi pemadaman selama 3 jam sehari saja.

Menurut pejabat listrik terkait, upaya pemadaman ini dikarenakan kurangnya pasokan listrik di Provinsi Riau, dimana untuk Riau dipasok oleh 3 pembangkit, yaitu: PLTA Koto Panjang, PLTG Tanjung Lembu, dan Pembangkit Listrik PT. Riau Power. Ketiga pembangkit tersebut tidak dapat memenuhi supply listrik untuk seluruh Riau. Ditambah lagi dengan pengurangan debit air di PLTA Koto Panjang yang merupakan satu-satunya pembangkit listrik berkapasitas besar di Riau. Otomatis listrik di Riau semakin dibatasi.

Kabar selanjutnya menyebutkan bahwa solusi jangka pendek atas krisis listrik ini adalah akan diadakannya hujan buatan di sekitar kawasan Waduk/Danau Koto Panjang. Tapi apakah hujan buatan efektif?? Mungkin untuk mengatasi krisis listrik jangka pendek hal ini efektif, walaupun tetap akan selalu ada pemadaman listrik di Riau dikarenakan walaupun PLTA Koto Panjang “full operated” akan tetapi tetap masih ada kebutuhan listrik di Riau. Dalam artian di Riau ini kebutuhan akan listrik lebih tinggi dari pasokan listrik yang diterima walaupun semuanya “full operated”.

Bagaimana mengatasi ini semua?? Sudah jelas bahwa solusi untuk mengatasi ini semua mau tak mau adalah agar secepatnya melakukan pembangunan pembangkit listrik baru, dimana paling tidak kita membutuhkan 200 MW lagi untuk memenuhi defisit listrik di Riau. Kabarnya hal ini oleh pejabat teras di Riau sudah dibicarakan dengan Menteri Keuangan agar disetujui pembangunan pembangkit listrik yang baru 2×100 MW. Entah bagaimana selanjutnya apakah nanti akan terealisir dengan baik?? Dan kapan pembangkit itu bisa berjalan optimal?? Wallahu’alam.

Saya pribadi bukannya pesimis akan hal ini. Tapi dikarenakan melihat sejarah ke belakang, dimana pejabat-pejabat Riau ini kurang pandai dalam me-lobby untuk pembangunan di Riau. Kita tahu kemaren DAU kita kecil sekali jika dibandingkan dengan Provinsi tetangga Sumatera Barat, padahal Riau adalah termasuk salah satu provinsi penghasil minyak terbesar di Indonesia. Akhirnya setelah Gubernur turun tangan dengan me-lobby langsung Wakil Presiden Yusuf Kalla, akhirnya ada penambahan DAU dengan syarat merevisi rencana pembangunan-nya.

Kemudian, kabar yang saya dengan Riau kalah lagi dalam “perebutan” proyek pemerintah untuk pembangunan listrik. Dimana pemenangnya lagi-lagi adalah provinsi tetangga Sumatera Utara. Akhirnya melihat kita memang sudah benar-benar membutuhkan listrik, lagi-lagi Gubernur mencoba melobby Menteri Keuangan agar Riau dimasukkan dalam proyek pembangunan listrik tersebut. Nah, untuk yang ini tidak tahu apakah nanti berhasil atau gagal.

Bicara tentang listrik kadang membuat saya tersenyum, kenapa? Karena saya melihat sepertinya sama sekali tidak ada perencanaan dalam memenuhi pasokan listrik. Sudah sewajarnya semakin hari penduduk semakin bertambah dan secara otomatis kebutuhan akan listrik semakin bertambah juga. Pemerintah memiliki Biro Statistik Indonesia, BAPPENAS dan lain-lain ditambah lagi dengan begitu banyaknya ahli, adalah suatu hal yang gampang untuk melihat tren dari pertambahan penduduk yang dihubungkan dengan kebutuhan listrik dari waktu ke waktu. Sudah selayaknya apabila melihat kecenderungan dari data tersebut ternyata kita membutuhkan pembangkit baru, karena pembangkit yang ada tidak mencukupi baik pembangkit loka maupun inter koneksi, ya… seharusnya segera dibangun pembangkit baru jangan menunda-nunda hingga defisit semakin tinggi.

Jika kebutuhan listrik di Riau ini hingga 200 MW, maka artinya adalah defisit listrik di Riau ini sudah masuk pada taraf yang sangat-sangat mengkhawatirkan. Apakah ini dikarenakan “ditunda-tunda” tersebut atau karena hal yang lain? Yang jelas sebagai perbandingan, pembangkit listrik PT. Riau Power saja hanya mampu menyediakan 18 MW listrik. Jadi kalau 200 MW, maka berdasarkan hitung-hitungan orang awam membutuhkan paling tidak 11 pembangkit listrik yang sama seperti milik PT. Riau Power. Bayangkan berapa besar itu semua.

Satu hal lagi, apabila kendala dari dibuatnya pembangkit listrik itu adalah karena bahan bakunya, maksudnya bila memakai diesel atau BBM sekarang dipandang tidak efisien lagi dikarenakan harga BBM yang tinggi dan kandungan-nya yang semakin menipis (ada salah satu ahli dari ITB menyebut cadangan minyak Indonesia tinggal 10 tahun lagi), jika memakai batubara harganya juga mahal dan musti mendatangkan dari tempat lain, kenapa tidak memikirkan bahan baku atau bahan penggerak yang lain??

Baru-baru ini pemerintah Cina meresmikan salah satu pembangkit listrik tenaga matahari yang terbesar di Dunia. Ini adalah salah satu dari upaya pemerintah Cina untuk memenuhi kebutuhan listrik di negerinya. Tapi menurut saya, pembangkit seperti itu belum layak dibangun di Indonesia, karena untuk membangun pembangkit seperti itu selain faktor teknologi yang tinggi, juga dibutuhkan lahan yang luas untuk menempatkan solar-solar cell nya. Apabila lahannya sempit dan solarnya sedikit, otomatis listrik yang dihasilkan pun sedikit. Sehingga ini saya pandang tidak ekonomis.

Jika air sudah susah karena saat ini hutan banyak gundul sehingga pasokan air di waduk PLTA pun menurun. BBM, batubara dan gas mahal sehingga tidak ekonomis. Panas bumi agak susah karena hanya tempat-tempat tertentu saja yang memiliki ini. Solar Cell susah karena membutuhkan lahan yang luas dan panel surya yang luas untuk menghasilkan listrik yang diinginkan yang secara otomatis membutuhkan biaya yang besar. Angin susah juga karena kondisi iklim di Indonesia ini yang memang anginnya sedikit dan tidak kencang. Kenapa tidak mengupayakan hal yang lain, misalnya dari tenaga nuklir. Karena setahu saya Prancis yang negaranya lebih kecil dari Indonesia ternyata memiliki pembangkit listrik tenaga nuklir yang paling banyak di dunia. Dan selama ini mereka oke-oke saja. Jadi apabila dikelola dengan baik (sesuai SOP) maka akan berjalan baik-baik saja tidak bakalan ada semua hal yang ditakuti selama ini, misalnya masalah pencemaran, lingkungan, dan lain sebagainya.

Iran-pun mencoba untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir, padahal kita tahu Iran adalah negara yang kaya dan memiliki cadangan minyak yang jauh… jauh.. lebih tinggi dari cadangan minyak Indonesia. Tapi mereka tetap ingin membangun pembangkit tersebut karena apa? Karena memang pembangkit listrik tenaga nuklir adalah satu-satunya pembangkit listrik yang paling ekonomis. Masa hanya negara-negara barat saja yang boleh memanfaatkan energi ini??

Selama ini kita dibodohi oleh mereka bahwa nuklir itu berbahaya dan sebagainya, baik itu melalui LSM dan lainnya. Tapi inti dari semuanya itu adalah agar kita tidak membangun itu semua. Tapi, apabila kita menghitung manfaatnya maka besar sekali manfaat yang bisa digunakan, dimana dengan nuklir bakan baku yang diperlukan untuk menghasilkan listrik yang besar tidak sebanyak jika menggunakan BBM, batubara ataupun gas. Jadi hitung-hitungannya akan sangat ekonomis. Disamping itu menurut apa yang saya baca, limbah dari nuklir ini bisa disimpan dalam areal seluas lapangan bola. Berarti limbahnya sedikit sehingga bisa diperlakukan seperti ini. Sudah pasti jika demikian maka penanganannya pun lebih mudah. Tapi memang tak bisa dipungkiri, jargon-jargon dari luar sudah sedemikian membekas di hati kita, sehingga jika ada upaya untuk memanfaatkan energi nuklir langsung tanpa dipikir akan ditentang.

Kayaknya sudah cukup hari ini saya menulis tentang listrik. Ini semua hanya uneg-uneg saya, karena merasa kecewa dengan adanya pemadaman listrik hingga 12 jam sehari. Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan renungan bagi kita semua.

One Comment to “Krisis Listrik di Kota Pekanbaru, Kapan Berakhir??”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: