Anekdot: 3 Tingkatan Kehidupan


1. Usia Muda

“Punya waktu dan energi…. tetapi tidak memiliki uang”

Gambaran Usia Muda

Gambaran Usia Muda

Ini benar-benar seperti yang saya alami ketika masa kecil hingga lulus kuliah dari perguruan tinggi. Waktu banyak sekali saya miliki, dimana pada saat kita sekolah banyak sekali libur menyambut ini menyambut itu bahkan guru rapat pun sekolah diliburkan.

Energi pun karena masih muda masih kuat. Pengen jalan jauh hayo… pengen kemana-mana pun hayo, “capek?” jauh dari kosa kata saya. Tapi itu tadi yang tidak punya adalah uang. Dimana untuk membeli makan sehari-hari dengan lauk pauk yang layak pun susah (inget waktu kost dulu). Boro-boro pengen beli barang-barang lain untuk mengikuti perkembangan zaman. Kayaknya jauh…. banget.

2. Usia Kerja

“Punya uang dan energi… tetapi tidak memiliki waktu”

Gambaran Usia Kerja

Gambaran Usia Kerja

Nah, kalo yang ini persis sekali dengan saat ini yang saya alami. Saat ini saya sudah bekerja dan sudah memiliki penghasilan sendiri. Usia saya saat ini masih produksi di bawah 40 tahun dan energi pun masih berlimpah. Cuma satu kekurangannya, waktu saya tidak punya. Waktu saya lebih banyak dihabiskan di kantor, dimana saya bekerja dari pukul 08.00 pagi hingga pulang ke rumah pukul 17.30. Tiba di rumah saya sudah lelah, paling bermain sebentar dengan anak, kemudian jatuh tertidur.

Saat ini untuk makan uang sudah tidak masalah. Walaupun bukan termasuk orang berada, ibaratnya sih pengen makan apa pun kalo hanya sekedar pengen coba, saya bisa untuk merasakan itu sekarang ini. Tapi satu hal yang jelas, nafsu makan pun dengan bertambahnya usia sudah mulai berubah. Dahulu saya termasuk tipe “pemakan segala” atau sering orang Indramayu bilang “krangla”. Nah sekarang makan pun tidak selahap dan tidak sebanyak dulu ketika masih muda. Sekarang yang sangat terasa bagi saya adalah, dulu ketika masih kecil sangat mengimpikan untuk makan daging, karena jarang sekali bisa untuk makan daging kecuali ada “peristiwa besar” seperti menyambut tamu atau lebaran. Sekarang setelah saya mudah untuk makan daging, saya tidak selera untuk memakannya, malahan selera saya kembali ke masa kecil dimana saya saat ini makan harus ada tempe kalau perlu ada rumbah (sayang rumbah di Pekanbaru tidak ada). Jadi sekarang nih untuk makan simple banget. Asal ada tempe rasanya sudah nikmat sekali makanan tersebut bagi saya.

Saat ini hampir semua keinginan masa kecil atas barang-barang mainan sudah saya miliki. Cuma itu tadi keinginan yang menggebu-gebu saat ini adalah pengen sering pulang kampung, kayaknya musti dipendam dalam-dalam karena waktu yang tidak saya miliki untuk sering bepergian pulang kampung.

3. Usia Tua

“Punya waktu dan uang… tetapi tidak memiliki energi”

Gambaran Usia Tua

Gambaran Usia Tua

Kalo yang ini belum saya alami, tapi Insya Allah akan saya alami juga kalo maut tidak datang menjemput lebih dahulu.

Ada “gurauan” teman tentang hal ini. Kata teman saya hal seperti ini persis seperti yang dialami oleh Almarhum Mbah Surip. Kenapa?? Karena Almarhum Mbah Surip mulai punya banyak duit ketika dia sudah mulai memasuki usia senja, dimana pada usia senja tersebut albumnya laku keras (bahkan saat ini ketika dia sudah meninggal dunia). Jadi teman saya bilang, “Sayang ya… kaya nya di saat sudah tua, pengen beli mobil mewah ataupun pesawat terbang gak bisa nyetir atau mengendarainya karena dulu pas muda biasa jadi orang susah (makanya pada saat-saat terakhir dia lebih suka naik ojek, walaupun mungkin untuk beli mobil pasti sanggup). Pengen beli komputer atau barang-barang hi-tech sudah gak bisa lagi untuk memakainya karena otak sudah malas untuk belajar. Pengen makan enak… sudah banyak pantangan untuk makan yang enak-enak. Pengen jalan-jalan energi sudah banyak terkuras untuk bernafaspun susah. Akhirnya jadi serba salah…”

Tapi apa yang disampaikan oleh teman saya itu kalo dipikiri-pikir kembali memang benar. Ketika kita diberikan harta yang berlimpah pada saat usia senja, rasanya apa sih yang bisa kita lakukan?? Paling harta tersebut yang akan menikmatinya adalah anak dan cucu kita. Kita sendiri gak bisa untuk menikmati kekayaan itu. Sehingga akhirnya kalo bisa untuk memilih lebih enak kalo bisa kaya di kala muda. Kalo perlu kayak terus-terusan, ibaratnya terlahir dari keluarga kaya, pada saat dewasa semakin kaya, tua pun mati dalam kekayaan. Tapi jika semuanya tidak bisa didapat, minimal kita bisa kaya di “alam” lain, yaitu alam setelah kematian. Mudah-mudahan salah satu bisa tercapai.

Akhirnya gunakan waktumu secara bijaksana karena waktu tidak bisa berputar balik, dan waktu itu berjalan sangat cepat hingga kita tidak menyadarinya.

2 Komentar to “Anekdot: 3 Tingkatan Kehidupan”

  1. ceritanya syarat makna, memang benar qt hrs pandai2 menggunakan wkt sebelum dia pergi & tak kmbali…
    salam kenal,,,klo ada wkt maen2 kblogQ ya,,,
    http://www.dianacakes.wordpress.com
    aq tnggu kdatangannya n’comment’a.Ok,,,

  2. kalo untuk makan saya ada perubahan pak. kalo kebanyakan MSG saya agak pusing. seperti udang saya juga ga bisa alergi. Padahal dulu makan apa aja gpp.ya perubahan umur rupanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: