Tradisi “lebaran keluarga” yang tidak akan terulang…


Ketupat LebaranTIDAK TERASA seminggu lagi mendekati lebaran. Saat-saat ini sangat terasa bagi “perantau” seperti saya, apalagi yang salah satu orang tuanya sudah meninggal (ibu saya sudah meninggal), setiap kali lebaran pasti teringat kembali dan sangat merindukan suasana lebaran yang seperti dulu kala ketika semuanya masih lengkap. Rasanya tidak ada lebaran yang lebih indah selain lebaran yang lengkap dengan kedua orang tua kita dan semua saudara-saudara kita kumpul “tumplek blek” menjadi satu di tanah kelahiran tercinta di Kandanghaur Indramayu.

Biasanya apabila kami kumpul dahulu, 2 atau 3 hari sebelum lebaran, kami sudah disibukkan dengan membuat kue-kue untuk persiapan lebaran nanti. Kami membuat rempeyek kacang dimana Ibu saya adalah salah satu pembuat rempeyek yang menurut saya paling top. Sampai saat ini saya belum mendapatkan saingan berarti dalam cita rasa rempeyek buatan ibu saya, memang ada yang mendekati cita rasanya yaitu rempeyek buatan istri rekan kerja saya di Pekanbaru.

Selain rempeyek, kami juga membuat tape ketan, dimana enaknya dalam membuat tape ketan ini adalah dalam mengatur agar tape ketan itu jadinya pas lebaran. Jadi pada saat lebaran, kami sibuk mencari es gusruk untuk selanjutnya dicampur dengan tape ketan. Wuih… terasa betul nikmatnya. Selain itu, kami juga membuat kue-kue kecil seperti bolu dan lain-lain, dan tidak lupa es buah satu panci besar karena kami merupakan keluarga besar yang sebagian besar adalah “krangla” alias pada doyan makan.

Itulah rutinitas yang kami lakukan ketika ibu saya masih ada. Sehari sebelum lebaran biasanya kami membuat ketupat lontong yang pembungkusnya menggunakan daun pisang. Oh iya sekedar penilaian pribadi saya, menurut saya ketupat yang dibungkus daun pisang terasa lebih nikmat dibandingkan dengan ketupat yang dibungkus dengan daun kelapa. Nah, membuat ketupat ini bisa dibilang gampang-gampang susah.

Sehari-hari kami memasak menggunakan kompor minyak tanah. Nah, untuk membuat ketupat ini kami tidak menggunakan kompor minyak tanah, karena waktu memasaknya yang begitu lama bakalan membuat kami tekor minyak. Jadinya untuk memasak ketupat kami menggunakan kayu bakar dengan membuat tungku menggunakan batu bata.

Cara membuat ketupat saya anggap cukup simple, dimana kita sebelumnya mencuci beras beberapa saat sebelum memasukkannya ke dalam wadah ketupat. Setelah beras dicuci, kemudian didiamkan beberapa saat, dan saat itu bisa kita manfaatkan untuk membuat wadah ketupat menggunakan daun pisang yang ujung satunya “dipincut”. Setelah itu kita masukkan beras yang sudah dicuci tadi ke dalam wadah ketupat, cukup setengah dari wadah tersebut, karena nanti ketika dimasak beras tersebut bakalan melebar dan memenuhi keseluruhan wadah. Setelah terisi dengan beras, wadah tadi “dipincut” ulang pada ujung yang satunya lagi sehingga berbentuk bungkusan permen dalam ukuran besar.

Setelah semua wadah terisi beras, lalu siapkan panci ukuran besar. Dalam panci atur potongan “dahan pisang” di dasar panci sebagai pembatas antara ketupat sehingga tidak langsung menyentuh dasar panci yang akan mengakibatkan ketupat tersebut gosong. Setelah itu susun ketupat di atasnya, dan selanjutnya isi dengan air hingga ketupat tersebut terendam sepenuhnya. Selanjutnya taruh panci di atas api, masak dan biarkan hingga ketupat didalamnya matang. Jika seandainya air berkurang, tambah lagi, demikian terus menerus, mungkin sekitar 6 jam-an dan setelah dicek dan terasa ketupat tersebut sudah matang, baru diangkat. Biasanya ketupat yang dimasak dengan cara seperti ini akan bertahan lebih lama dan kontur ketupat pun akan lebih oke bila dibandingkan dengan ketupat yang dimasak singkat (ada juga lho sistem singkatnya untuk memasak ketupat).

Selain kita memasak ketupat, kita juga memasak lauknya berupa daging. Biasanya masakan daging ini ada dua macam yang kami buat, yaitu “daging masak kecap” dan “empal ayam”. “Daging masak kecap” ini biasanya yang dipakai adalah daging kambing atau daging sapi. Mohon maaf nih untuk “daging masak kecap” saya tidak tahu resepnya jadi tidak bisa saya tuliskan dalam tulisan ini. Enaknya “daging masak kecap” ini adalah semakin hari bukannya basi ataupun busuk, semakin hari asal sehari sekali dipanaskan “daging masak kecap” ini malah semakin enak dan harum. Saya sendiri malah lebih suka “daging masak kecap” yang sudah berumur beberapa hari, dicampur dengan nasi putih, wuih… benar-benar nikmat. Nah biasanya ini yang paling bertahan lama, dan membuat “daging masak kecap” pun memerlukan waktu yang lama, kayaknya hampir sama dengan ketika membuat ketupat. Satu yang disayangkan saya, adalah saya belum sempat mempelajari cara membuat “daging masak kecap” pada mendiang Ibu saya, coba kalau saya mempelajari itu rasanya ada juga keinginan untuk membuatnya sendiri.

Nah, untuk sayurnya sebagai teman makan ketupat, kami biasanya membuat “empal ayam”. Perlu diketahui, empal dengan gulai mungkin hampir sama, tapi rasanya menurut saya jauh sekali berbeda. Jika Anda jalan-jalan ke Indramayu atau Cirebon, cobalah anda mampir ke warung makan yang menjual empal baik itu empal biasa atau empal gentong Cirebon yang sudah terkenal, dan rasakan gurih dan nikmatnya empal. Baru di situ Anda akan bisa menceritakan bahwa antara gulai dengan empal itu benar-benar dua makanan yang berbeda walaupun kuahnya hampir sama berwarna kuning. Sayangnya saya juga tidak tahu cara memasak empal, yang pasti empal buatan Ibu saya benar-benar nikmat.

Setelah bercapek-capek ria sehari sebelum selabaran. Pas berbuka untuk yang terakhir kali, kami semua membuat sate kambing dengan kuah kacang. Jadi, berbuka dengan ketupat plus sate kambing kuah kacang benar-benar terasa sekali nikmatnya. Seharian itu kami tidak ada menyentuh nasi karena perut sudah kekenyangan “disumpal” dengan ketupat.

Besoknya pas lebaran barulah semua masakan yang dimasak sebelum lebaran kita sikat habis, jika perlu sampai tuntas. He… he… benar-benar kami semua terutama saya dan saudara-saudara saya sesama laki-laki melimpahkan “dendam kesumat” selama sebulan penuh kepada makanan pas hari lebaran ini. Sebenarnya dalam agama balas dendam pada makanan seperti ini tidak dibolehkan, cuma ya… namanya juga kami manusia biasa apalagi kami berempat laki-laki melihat yang satu makan lebih banyak yang tadinya ingin menahan diri akhirnya jadi kebablasan makan juga lebih banyak dari dia. Walhasil, semuanya kami sikat habis. Biasanya yang masih tersisa pada hari raya kedua adalah “daging masak kecap”. Jadi pas hari raya kedua kami makan apa???

Untuk menjawab rasa penasaran, pada hari raya kedua, kami membuat lotek. Sebelumnya saya sampaikan dahulu, jangan samakan lotek Pekanbaru dengan lotek Indramayu ya…. Karena ini adalah 2 “spesies” yang menurut saya berbeda dan saling bertolak belakang dalam hal cita rasa. Lotek Indramayu menurut saya adalah benar-benar lotek dan sangat nikmat. Baik itu dimakan dengan sayuran maupun dimakan dengan ketupat saja, sama-sama nikmatnya tak terkatakan. Hari kedua lebaran, kami membuat lotek dikarenakan “empal ayam” sudah habis, jadi kami buat lotek sebagai teman makan ketupat ditambah dengan “daging masak kecap” wuih… benar-benar nikmat sekali.

Begitulah “rutinitas” yang sudah melegenda dalam keluarga saya ketika menyambut lebaran ketika Ibu saya masih ada. Memang sih kalau Anda membacanya, rutinitas itu lebih ke arah makanan semuanya. Tapi hal itulah yang sampai saat ini masih terpatri dengan jelas dalam ingatan saya. Saat ini rutinitas itu sudah hampir hilang. Memang kakak perempuan saya satu-satunya mencoba untuk “menghidupkan” kembali rutinitas tersebut, tapi rasanya tetap berbeda dengan ketika Ibu saya masih ada.

Saat ini ketika menghadapi lebaran yang semakin dekat, saya merasakan “kehampaan” dalam menyambut lebaran. Saya merasa lebaran kali ini dan lebaran-lebaran nanti yang akan saya alami berikutnya “tidak akan sama” dan “semenarik” dengan lebaran-lebaran yang paling berkesan ketika semua rutinitas tersebut masih berlangsung. Apalagi pada lebaran kali ini saya tidak pulang ke kampung halaman saya karena agenda lebaran kali ini berlebaran di kampung istri saya, saya merasakan perbedaan yang sangat nyata dengan tradisi yang dibangun di keluarga saya.

Berlebaran di kampung istri saya, saya rasakan seperti hari-hari biasa. Di mana tradisi lebaran di keluarga istri saya sangat jauh berbeda dengan tradisi lebaran di keluarga saya. Di keluarga saya bisa dikatakan semua kue-kue dan makanan bisa dikatakan semuanya dibuat sendiri tidak ada yang dibeli, dan kue-kue dan makanan ini dibuat dalam jumlah besar untuk memenuhi “kebutuhan” kami sekeluarga. Di keluarga istri saya, mungkin dikarenakan berasal dari keluarga yang lebih berada, kebanyakan kue-kue dan makanan untuk lebaran dibeli. Jadi kue-kue ini pas lebaran sudah tertata rapi di meja lengkap dengan wadah atau kemasannya yang dari tokonya sudah cantik-cantik. Dengan penataan yang sedemikian rupa, melihatnya saja sudah agak hilang selera saya untuk memakannya, mungkin dikarenakan terbiasa “ala koboi” dalam penyajian makanan. Selain itu tidak ada tradisi masak ketupat yang menghebohkan dan lauk dari ketupat pun saya anggap biasa-biasa saja, dalam arti tidak ada yang benar-benar menggugah selera saya.

Ibunda tercinta...

Ibunda tercinta...

Akhirnya yang saya sadari saat ini, ternyata kenangan masa lalu itu terasa sangat indah, dan kenangan itu tidak akan mungkin hadir kembali dalam kehidupan saya. Tapi yang jelas, semuanya patut saya syukuri. Saat ini saya bersyukur pernah mengalami “saat-saat paling indah” dalam hidup saya ketika Ibu saya masih ada, yang tidak mungkin saya ulang kembali hingga saya meninggal kelak. Saya ucapkan, “Selamat jalan Ibunda, tanpa Ibunda lebaran jadi terasa berbeda. Selamat jalan dan semoga Ibunda tenang di alam sana dan senantiasa mendapat curahan rahmat dan karunia Allah SWT selama di alam sana, Amiin.”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: