Opini Pribadi Atas Kemenangan Aburizal Bakrie


VersusKEMENANGAN Aburizal Bakrie adalah kemenangan Kubu Akbar Tanjung atas Kubu Jusuf Kalla dalam memimpin Partai Golkar pada tahun-tahun berikutnya.

Akhirnya Munas Partai Golkar VIII tahun 2009 di Pekanbaru Riau berakhir dengan terpilihnya Aburizal Bakrie sebagai Ketua Umum Golkar yang baru. Saya melihat hal ini sebagai suatu pertarungan besar antara Kubu Akbar Tanjung dengan Kubu Jusuf Kalla. Pada munas sebelumnya (5 tahun yang lalu mungkin??) dimana kubu Jusuf Kalla mengalahkan kubu Akbar Tanjung, saya sangat salut dengan Akbar Tanjung yang tetap “keukeuh” dengan pendiriannya untuk tetap di Partai Golkar tidak mengikuti “trend” petinggi-petinggi Golkar yang lain (kalah) yang rame-rame membuat partai baru. Dan ternyata “penantian” Akbar Tanjung ini akhirnya saat ini berakhir dengan terpilihnya Aburizal Bakrie sebagai Ketua Umum Golkar yang baru. Sekali lagi saya salut sekali akan kepiawaian Akbar Tanjung meramu segala sesuatu hingga “jagonya” bisa memenangkan perebutan pucuk pimpinan di Partai Golkar tersebut.

Jika kita membandingkan sosok Aburizal Bakrie dengan Surya Paloh (mereka berdua memiliki suara terbesar dibandingkan 2 sosok lainnya), maka saya pribadi sebagai orang di luar Golkar melihat Surya Paloh lebih sedikit memiliki “dosa” dibandingkan sosok Aburizal Bakrie. Selain itu dedikasi terhadap Partai Golkar pun pada sosok Surya Paloh tidak diragukan lagi. Kedua sosok tersebut sama-sama pengusaha dan sama-sama memiliki kekayaan dan visi yang jelas bagi Partai Golkar. Jadi kenapa Surya Paloh bisa kalah dari Aburizal Bakrie?

Aburizal Bakrie oleh masyarakat luas dipandang memiliki satu “dosa” akibat kecerobohan salah satu perusahaannya di Lapindo Jawa Timur. Hingga saat ini lumpur yang menggenangi kawasan Lapindo tidak bisa dihentikan, dan penyelesaian masalah tersebut dengan masyarakat sampai saat ini masih terkatung-katung dan berlarut-larut. Tapi ternyata hal itu tidak menyurutkan “suara” dari yang memilih Aburizal Bakrie sebagai Ketua Umum Partai Golkar yang baru. Kenapa hal ini bisa terjadi??

Menurut pendapat saya pribadi, jawaban kedua pertanyaan di atas adalah dikarenakan 2 hal, yaitu kemampuan dari tim lobby politik dari kubu Akbar Tanjung yang memang sejak dahulu sudah dikenal hebat, dan peserta munas melihat bahwa “kekalahan” Partai Golkar lebih disebabkan faktor “Jusuf Kalla” sehingga ketika JK mengusung Surya Paloh, maka sebagian peserta tidak mau memilihnya.

Dari kedua jawaban di atas, saya lebih condong pada jawaban pertama, dimana sejak dahulu memang sudah diketahui kalau Akbar Tanjung adalah seorang politikus ulung dengan kekuatan di lobby-lobby politiknya. Setelah “kekalahan” Partai Golkar pada pemilu yang lalu, bisa dibilang Partai Golkar sudah terpecah dua, dimana di tingkat pusat sebagian besar masih solid dengan JK dan ditingkat DPD hampir sebagian besar masuk ke kubu Akbar Tanjung. Apalagi jargon-jargon kejayaan masa lalu sudah diusung oleh kubu Akbar Tanjung sejak lama, otomatis simpatisan Golkar menginginkan partainya bisa kembali membuat “taji” pada perkancahan politik tanah air.

Kemampuan dari lobbying dan pemecahan konsentrasi masalah dari kubu Akbar Tanjung mengakibatkan “dosa” dari Aburizal Bakrie berupa penanganan lumpur Lapindo sama sekali tidak mengusik suara yang diperoleh dari Aburizal Bakrie sehingga beliau melenggang dengan bebas untuk menjadi orang nomor satu di Partai Golkar.

Saya juga melihat beberapa isu yang entah benar-entah tidak. Salah satu kekalahan dari kubu JK adalah juga dikarenakan kurangnya dukungan Partai terhadap kader-kadernya yang sedang bermasalah hukum. Isu ini ternyata mungkin “mujarab” bagi DPD-DPD Golkar dimana mungkin mereka melihat bahwa : “Koq kader-kadernya yang bermasalah hokum dikarenakan kasus korupsi seolah-olah ditinggal oleh Partai??”. Sehingga kader-kader Golkar di DPD merasa lebih “sreg” untuk memilih kubu Akbar Tanjung yang dipandang solid dan mau “membela” kadernya yang bermasalah. Ya…. Ini juga memang dikarenakan hampir sebagian besar politikus atau anggota dewan ketika masa jabatannya berakhir bermasalah dengan hokum. Sehingga otomatis untuk “mengamankan kehidupan” mereka selanjutnya, mereka perlu mencari figur yang cocok dan dipandang mampu membela mereka ketika mereka tidak lagi berkuasa.

Demikian opini pribadi saya atas kemenangan Aburizal Bakrie merebut kursi Ketua Umum Partai Golkar di Hotal Labersa Riau.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: