Jepretan: Asrinya Kampungku


JEPRETAN kali ini lebih ditekankan pada pengambilan moment keindahan dan keasrian kampung (walaupun sebenarnya gak asri-asri amat… stt.. bagi yang sudah tahu). Tapi yang jelas, bagi yang tinggal di perkotaan dan ingin hidup tenang… bisa lah melihat-lihat foto kampung asri yang seperti ini….

Tanggul seberang kali di pagi hari

Foto di atas diambil pada pagi hari, persis saat orang-orang kampung hendak melaksanakan sholat Idul Adha di Masjid At-Taqwa. Foto diambil dari dalam rumah, pengennya sih mengabadikan tanggul seberang rumah. Cuma dikarenakan sudut pengambilan gambar yang lurus, maka sungai di pinggir rumah tidak kelihatan.

Tanaman hijau di pekarangan rumah

Foto di atas memperlihatkan tanaman hijau yang tumbuh di pekarangan rumah. Dan yang paling jelas tampak dalam foto adalah tanaman Sawo Kecik. Ada cerita tersendiri tentang Sawo ini. Dulu saya pribadi termasuk ke dalam kelompok manusia “krangla” (ya… semacam kalo sekarang sih omnivora atau pemakan segala), mungkin dikarenakan dulu untuk makan atau nyemil susah sekali, akhirnya kita jadinya kelihatan rakus. Tetangga di depan rumah ada yang punya pohon Widara. Mungkin banyak yang tidak tahu seperti apa sih Widara? Widara ini pohonnya tinggi dan buahnya seperti buah Berry, tapi rasanya masam dan ada manis-manisnya sedikit. Padahal Widara ini bisa dibilang buah yang gak ada enaknya (makanya gak dijual di pasar atau di manapun). Tapi berhubung saya termasuk “krangla”, maka buah yang gak enak ini pun habis juga saya makan hingga perut mulas-mulas. Setelah saya dewasa ternyata pohon Widara ini masih ada, tapi saya melihat anak-anak sekarang sudah tidak lagi berebut buahnya. Bahkan saya lihat buahnya banyak yang jatuh tak disentuh sama sekali oleh anak-anak.

Kembali ke Sawo Kecik, kalau saja tanaman ini ditanam ketika saya masih kanak-kanak….. Wuih, mungkin gak bakalan terlihat buahnya yang lebat di atas pohon. Karena kami “krangla” pasti menghabiskan buah-buahan yang ada di atas pohon Sawo Kecik ini. Tapi sayangnya memang pohon ini ditakdirkan tidak berjodoh dengan masa kanak-kanak saya, sehingga sekarang dia bisa tumbuh subur lengkap dengan buah-buahnya yang ranum yang tidak pernah ada orang yang ingin memetiknya karena banyaknya makanan lain yang lebih enak-enak.

Bersantai di teras rumah

Dalam foto di atas tampak orang tua saya dan keluarga abang saya sedang bersantai di teras rumah. Saya mengambil foto ini dari tanggul di samping rumah. Saat itu saya hendak berangkat ke Indramayu Kota untuk berziarah ke makam Ibunda saya di Komplek Pemakaman Mbah Wiralodra (nanti akan saya publikasikan juga hasil jepretannya). Foto ini diambil ba’da Dzuhur setelah sholat Idul Adha. Awalnya iseng saja, tapi ternyata oke juga.

Pekarangan samping rumah

Nah, foto di atas lebih “menampakkan” sekitaran pekarangan rumah orang tua saya di Desa Parean Girang Kandanghaur. Memang kalau kita lihat di foto, kesan yang didapat adalah “ndeso” banget kan?? Tapi beginilah yang namanya kampung. Gitu-gitu juga sudah membesarkan saya dan memberikan kesan terdalam pada diri saya yang tidak akan saya lupakan, walaupun saat ini saya hidup dan tinggal jauh dari kampung halaman.

Pekarangan rumah

Nah yang ini adalah pekarangan rumah diambil dari teras rumah. Terlihat dalam foto ada tanaman-tanaman hijau yang menyegarkan siapapun yang memandangnya. Sebenarnya di pinggir pagar bambu ada semacam parit kecil, ya… mungkin sekitar ukuran 0,5 meter, yang dulu ketika saya kecil dipergunakan juga untuk memelihara ikan lele. Tapi sekarang kayaknya dibiarkan begitu saja.

Dulu ketika saya kecil, saya biasa diajak oleh Ayah saya untuk membuat pagar bambu ini. Jadi pas mau buat pagar bambu ini saya disuruh beli bambu di tempat terdekat (kayaknya sekarang sudah tidak ada lagi tempat saya membeli bambu digantikan dengan toko pakaian). Baru kemudian dengan Abang saya saling bergotongan membawa bampu di pikul di atas bahu. Untuk selanjutnya bambu tersebut diolah untuk dibuat pagar. Untuk membuat pagar keliling rumah kadang makan waktu hampir satu bulan, karena memang tidak khusus banget waktu dihabiskan untuk buat pagar.

Nah, mengenai parit kecil, asal tahu saja rahasia dari kesuburan tanah di pekarangan rumah adalah dari parit tersebut. Dulu ketika kecil saya, saudara saya dan Ayah saya sering mengambil lumpur (endut dalam bahasa Jawa Dermayu) untuk diletakkan pada tanaman-tanaman yang baru ditanam. Ya… paling tidak tanaman tersebut bisa tahan lah beberapa hari tidak disiram. Ternyata “endut” inilah yang membuat tanaman cukup subur tumbuh di pekarangan rumah kami.

Pekarangan di depan rumah

Nah kalau yang ini pekarangan depan rumah orang tua saya. Memang terdengar lucu ya jika saya menyebutkannya pekarangan depan rumah?? Karena memang rumah orang tua saya berbentuk huruf L dan letak dari pintu utama adalah di depan jalan setapak ini. Padahal, pintu utama ini malah menghadap rumah tetangga, bukan menghadap ke sungai. Jadinya karena “depan rumah” itu identik dengan di depan pintu utama, akhirnya saya sebut saja bahwa ini adalah pekarangan depan rumah…. Gitu saja repot..

Masih seputaran pekarangan samping rumah

Nah kalau yang ini sebenarnya hampir sama dengan foto sebelumnya menggambarkan pekarangan samping rumah tapi dari sudut pandang yang berbeda. Terlihat asri kan…. memang yang namanya foto kadang bisa menipu pandangan kita. Padahal, yang namanya Parean tuh tempatnya panas banget karena berada di dekat jalur Pantura (Pantai Utara Jawa). Tapi dengan foto, kita seolah-olah disuguhi dengan tempat yang nyaman jauh dari kesan panas dan sebangsanya.

Btw, it’s my place…….

5 Komentar to “Jepretan: Asrinya Kampungku”

  1. kuen mah umane pak rakhmat

  2. kuen mah umane pa Rakhmat

  3. Istimewa Mas Zaki,..Sederhana dan apa adanya,..Tetap Berkarya dan Tetap Berahaja,..

  4. salam kenal tuan. hambe datang sebagai saudara. kampung yang tenang.mari mampir kegubuk hambae

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: