Sepenuh Syukur…..


KEMARIN adik saya menanyakan kepada saya, “Kenapa status di YM saya tertulis ‘Sepenuh syukur…’? Apakah karena lagi dapat rezeki saat ini atau gimana?”. Saya langsung jawab bahwa status itu saya tulis karena saya merasa sangat bersyukur atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah SWT berikan kepada saya serta segala kemudahan yang telah diberikan Allah kepada saya hingga saat ini. Saya jelaskan juga bahwa dahulu kita hidup serba kekurangan hingga untuk makan pun kita tidak bisa memilih. Tapi sekarang, syukur Alhamdulillah walaupun kita bukan orang yang berada tapi segala sesuatu yang menjadi dambaan kita waktu kecil bisa kita raih. Itu yang benar-benar membuat saya merasa bersyukur.

Saya jadi ingat, bagaimana dahulu ketika saya masuk SD, dimana teman-teman SD yang lain sudah memakai seragam yang “biasa” yaitu seragam merah putih dimana celananya adalah celana kain merah yang ada slot untuk ikat pinggangnya seperti celana model sekarang. Saya saat itu memakai celana kolor merah dan baju putih bikinan ibu saya sendiri yang sangat jauh berbeda bentuknya dengan seragam teman-teman yang lain karena saat itu ibu saya hanya bisa membuat baju dan celana dengan bentuk paling sederhana. Saat itu saya pede saja menggunakan seragam yang lain dari pada yang lain, dan untungnya sekolah SD saya termasuk sekolah favorit dan elit di kecamatan Kandanghaur sehingga tidak mengizinkan murid-muridnya berkaki ayam alias cekeran tidak menggunakan sepatu. Sehingga walaupun seragam saya tidak biasanya, tapi saya tetap bersepatu walaupun sepatu itupun sepatu hitam biasa yang dibeli di pasar kaget yang ada di desa ku setiap Sabtu dan Minggu.

Satu hal yang saat itu membuat saya malu adalah ketika tali kolor hitam seragam SD saya putus di sekolah. Untungnya saat itu waktu istirahat, sehingga saya langsung saja berlari dari SD tempat saya menuntut ilmu ke rumah yang jaraknya mungkin sekitar 100-an meter untuk mengganti celana seragam kolor saya yang putus itu. Hingga beberapa tahun (saya sudah tidak ingat lagi), saya masih menggunakan seragam seperti itu hingga ibu saya tercinta belajar menjahit celana dengan bentuk seperti celana yang ada sekarang.

Jadi kemampuan menjahit ibu saya tercinta itu tidak langsung serta merta ahli dalam menjahit segalanya. Semuanya bertahap lho… misalnya dalam membuat celana, awalnya ibu saya hanya bisa membuat celana kolor. Trus dia belajar dari majalah-majalah bekas dan koran-koran bekas akhirnya bisa membuat celana yang model sekarang walaupun saat itu kantong celananya masih kelihatan jahitannya dan masih menggunakan kancing karena belum bisa menjahit slot kancing celana dan resleting. Jadi saat itu saya masih sempat mengalami memakai celana seragam “model lain” yang jauh lebih baik dari pada celana kolor, sudah menggunakan kancing tapi kelihatan semua jahitan kantongnya.

Selanjutnya kemampuan ibu saya bertambah lagi dan bertambah lagi, hingga dia bisa membuat celana seperti yang sekarang ini dipakai dimana kantong celananya tidak lagi tampak jahitannya dari luar. Benar-benar luar biasa ibu saya pada saat itu, dimana dalam serba kekurangan beliau masih bisa memanfaatkan segalanya sehingga beliau bisa memenuhi semua keinginan anak-anaknya.

Dalam urusan jahit menjahit, ibu saya termasuk orang yang otodidak belajarnya. Beliau adalah orang yang tekun belajar dan berani untuk mencoba hal-hal yang baru. Satu hal yang sangat disukai oleh ibu saya adalah hiasan bordir. Untuk yang satu ini beliau benar-benar suka, sehingga baju seragam putih saya pun ada hiasan bordirnya yang beliau buat sendiri. Biasanya baju kami letak hiasan bordirnya macam-macam, kalo untuk baju seragam biasanya terletak di dada sebelah kiri. Tapi kalau untuk baju biasa kadang terletak di kantong baju di kanan kiri bawah baju tersebut.

Dan model baju yang sangat disukai ibu saya untuk membuatnya adalah model baju dengan tiga kantong, kantong 1 ada di dada atas sebelah kiri seperti biasanya, kantong 2 ada di bawah pas di pinggang kanan dan kantong 3 ada di bawah pas di pinggang kiri. Nah biasanya hiasan bordir ini adanya di kantong-kantong tersebut. Gambarnya pun macam-macam, ada yang bergambar bunga dan ada yang bergambar abstrak. Bagus sekali apa yang ibu saya bikin…. he.. he..  Kesukaan ibu saya bordir membordir ini terus berlanjut hingga beliau bisa membuat sarung bantal bordiran hanya dengan melihat modelnya dari majalah. Tapi sayangnya kemampuan menjahit ibu saya ini tidak menular ke anak-anaknya baik itu yang laki-laki maupun ke perempuan.

Selain menjahit dan membordir, ibu saya pun sangat pandai dalam memasak. Apapun masakan yang ibu saya ciptakan semuanya enak-enak. Dan kayaknya kemampuan alias cita rasa ibu saya atas masakan ini menular pada diri saya. Walaupun saya tidak jago memasak makanan yang aneh-aneh, tapi saya bukannya ingin menyombongkan diri, kalau saya sudah memasak makanan seperti sambal goreng tempe, nasi goreng, mie goreng dan masakan-masakan sederhana lainnya, saudara-saudara saya dan Ayah saya mengatakan bahwa masakan saya enak. Jadi kemampuan cita rasa masakan dari ibu saya itu sedikit banyak jatuh menurun ke saya, he… he… keren kan….

Dulu semasa saya kecil, saya sering bereksperimen memasak kue-kue ketika saya pulang sekolah orang tua tidak ada di rumah. Bagaimana saya tidak bereksperimen, uang saku harian saya dahulu sangat kecil dan kadang pas pulang sekolah saya sudah lapar eh.. tidak ada makanan sama sekali di meja makan. Akhirnya kadang saya bereksperimen memasak kacang goreng yang digoreng tanpa minyak yang kemudian dicampung dengan gula yang dipanaskan, atau kadang saya membuat semacam dadar tepung terigu yang didalamnya ada potongan-potongan pisang. Macam-macam lah yang saya buat untuk mengisi perut yang keroncongan hingga ibu saya datang dan memasak makanan untuk kami.

Dan mengenai kemampuan memasak ibu saya ini ternyata tidak hanya diakui oleh kami anak-anaknya saja. Tapi juga keluarga besar ibu saya pun mengakuinya. Jika ada kenduri-kenduri perayaan apapun, ibu saya pasti dipanggil dan beliau lah yang bertindak selaku “Kepala Tukang Masak” yang bertanggung jawab atas seluruh cita rasa masakan yang dimasak pada acara tersebut. Jadi setiap kali saudara-saudara ibu saya mengadakan kenduri, 2 atau 3 hari sebelumnya ibu saya sudah berangkat ke rumah saudaranya yang akan kenduri tersebut untuk mulai sibuk-sibuk membantu memasak masakan pesta yang lezat.

Kembali lagi ke frame cerita semula. Sepenuh syukur saya benar-benar panjatkan hanya kepada Allah karena apa? Karena saat ini walaupun kami bukan orang berada yang memiliki mobil dan rumah mewah, tapi untuk makan saat ini kami sudah bisa memilih mau makan apa, padahal dahulu hanya bisa makan seadanya dan apa yang ada. Dahulu untuk membeli mainan kami tidak sanggup sehingga saya buat sendiri macam-macam mainan dari bahan limbah, sekarang saya sudah bisa penuhi anak saya dengan mainan yang dia mau dan terjangkau oleh kantong saya. Dahulu kami hanya bisa memakai baju bikinan sendiri, sekarang kami sudah bisa membeli baju sendiri dengan model dan corak yang kami sukai. Dahulu kami hanya mampu untuk membeli mesin ketik, sekarang saya mampu untuk membeli komputer dan perangkatnya, iMac lagi komputer yang saya gunakan. Dahulu kami hanya bisa memakai sepatu hitam murah yang dibeli di pasar kaget, sekarang saya sudah bisa memakai sepatu yang saya suka yang saya beli di Supermarket. Benar-benar nikmat dan karunia yang luar biasa yang telah dilimpahkan oleh Allah SWT kepada saya dan keluarga saya. Dan itu rasanya kalau dipikir-pikir sekarang seperti berada di alam dongeng, saya bisa berada pada pencapaian yang sekarang ini yang benar-benar merupakan hal yang tidak terbayangkan terjadi semasa saya kecil dahulu.

Tapi memang, namanya “kacang tidak akan lupa dengan kulitnya”. Setinggi apapun pencapaian yang sekarang sudah saya raih, tapi saya masih tetap ingat masa-masa lalu yang indah yang membentuk diri saya hingga sekarang. Kebiasaan-kebiasaan hidup susah masih melekat pada diri saya hingga sekarang. Saat ini saya masih makan nasi dua kali sehari di waktu siang dan malam saja. Saya pun tidak terbiasa untuk jajan makanan ringan atau sarapan pagi di kantor. Saya pun hanya memiliki satu sandal dan satu sepatu saja, kalau sandal atau sepatu itu rusak baru saya beli sandal dan sepatu yang baru. Intinya saya hanya membeli apa yang memang menjadi kebutuhan saya dan tidak berlebihan. Hal itu yang terus melekat pada diri saya hingga sekarang.

Akhirnya sekali lagi saya benar-benar mengucapkan rasa syukur sedalam-dalamnya atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah SWT berikan kepada saya, semua kemudahan-kemudahan yang telah diberikan, semua rezeki yang telah dilimpahkan, sehingga saya dan keluarga saya saat ini tidak merasa kekurangan. Semoga kami sekeluarga termasuk ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur dan semoga kami sekeluarga termasuk orang-orang yang sabar, Amin ya Robbal ‘Alamiinn….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: